Rabu, 02 Agustus 2017

" Artikel Bully "

" Stop Bully "





KabarIndonesia - Bullying: Bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang/kelompok yang lebih lemah oleh seseorang/sekelompok orang yang memersepsikan dirinya lebih kuat. Bully:  Siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.              

Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah saat ini sangat memprihatinkan kita sebagai pendidik juga sebagai orang tua. Sekolah yang seharus nya menjadi tempat bagi anak menimba ilmu serta membantu membentuk karakter pribadi yang positif ternyata malah menjadi tempat tumbuh suburnya praktek-praktek bullying, sehingga memberikan ketakutan bagi anak untuk memasukinya. Sebut saja kasus terakhir yang masih hangat adalah kasus Cliff Muntu di IPDN, dan yang terakhir kasus fadhil di Jakarta, belum lagi ditambah adanya kasus tawuran antar pelajar yang terjadi hampir disetiap daerah di tanah air.
  
Kasus-kasus bullying tersebut terjadi di sekolah, kasus-kasus ini merupakan fenomena gunung es dari banyak kasus lainnya yang terjadi di sekolah yang tidak terekspos oleh media.
Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan, sejatinya menjadi tempat yang aman yang nyaman bagi anak didik untuk mengembangkan dirinya, serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Bukan malah sebaliknya mencetak siswa-siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman, sungguh ironis sekali. Yang lebih ironis lagi sebagian masyarakat kita bahkan guru sendiri menganggap bullying sebagai hal biasa dalam kehidupan remaja dan tak perlu dipermasalahkan, bullying hanyalah bagian dari cara anak-anak bermain. (Detik.com)                         

Iklim gencet-gencetan di sekolah sebetulnya sudah lama terjadi di Indonesia. Kasus Edo Renaldo masih hangat-hangatnya. Bocah kelas 2 SD di Jakarta Timur itu, menjadi korban kekerasan di sekolahnya. Bak adegan film gangster, Edo dianiaya oleh 4 temannya di kamar kecil. Tindakan itu tidak membuat bocah-bocah yang masih ingusan itu puas. Mereka kembali memukuli Edo secara beramai-ramai di kelas. Walhasil, Edo terkapar tak berdaya, lalu malam harinya demam tinggi. Lima hari kemudian ia meninggal dunia. Memang, terlalu dini menyimpulkan kematian Edo sebagai akibat ulah 4 temannya. Tapi, kejadian ini memperlihatkan, betapa kekerasan mudah ditemukan di lingkungan sekola.             

Beberapa minggu belakangan ini media kita (termasuk blog) diramaikan oleh pembahasan seputar insiden yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Geng wanita, Pencabulan sesama murid, perpeloncoan kepada adik kelasnya ketika MOS dan sejenisnya. Insiden ini sangat memalukan didunia pendidikan.            

Beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa ”bullying” merupakan masalah internasional yang terjadi hampir disemua sekolah. Tapi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial ekonomi ataupin etnis. Berdasarkan hasil penelitian di Norwegia, 15% murid atau satu diantara 7 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terlibat dalam aksi “bullying”. Bahkan di Amerika serikat, angkanya lebih tinggi, 30% murid SD dan SMP. Hasil survey di Australia menunjukkan bahwa 20% murid mengalami “bullying” setidaknya satu kali dalam seminggu. Kasus paling tinggi terjadi pada anak remaja kelas 8 dan 9 dan dilakukan lebih sering oleh anak laki-laki. Penelitian lain menyebutkan bahwa Australia, anak yang menjadi korban tindak penindasan 3 x lebih tinggi mempunyai resiko depresi. (Whorkshop mengenai kupas tuntas bullying,2008:1)  
           
Di Indonesia peNindasan yang dilakukan oleh murid ke murid atau guru ke murid umum terjadi. Kejadian anak mogok sekolah, perpeloncoa siswa baru, sampai pada kenakalan remaja seperti marakNya geng yang erat hubungannya dengan aksi bullying. Kejadian bullying akhirya mencuat setelah terdapat korban-korban yang meninggal. Sayangnya data survey secara nasional mengenai prevalensi bullying di Indonesia tidak dapat ditemukan Perilaku bullying :

  • Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
  • Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
  • Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
  • Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
  • Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Apa Dampak dari Bullying?           
Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. 
Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.            
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).         Dari informasi di atas, kita dapat melihat bagaimana perilaku bullying sebenarnya sudah sangat meluas di dunia pendidikan kita tanpa terlalu kita sadari bentuk dan akibatnya. Dalam bagian ke-2, penulis akan menelusuri beberapa sumber lebih jauh lagi untuk melihat karakteristik pelaku bullying, mitos dan fakta tentang bullying, serta bagaimana menghadapi bullying, baik bagi korban, siswa lain yang menonton, maupun bagi pihak sekolah atau orangtua. 

Pencegahan Bullying Pada Siswa tanggung jawab civitas sekolah ( Guru, Karyawan dan siswa )
       

Image Permasalahan Bullying ditangani oleh guru BK ini tidak benar, guru BK hanya memberikan layanan penyelesaian, akan tetapi permasalahan Bullying tanggung jawab kita semua, termasuk siswa para pelakunya. Siswa sebaiknya selalu meningkatkan ibadahnya sesuai dengan agama masing-masing karena bullying sangat tidak baik dilakukan, Peran sekolah selau memberikan nasehat-nasehat bijak dan selalu mengingatkan dengan bullying sangan mempuruk masa depan siswa itu sendiri. Poeran Orang tua juga sangat dibutuhkan menanamkan etika dan moral kepada putra dan putri terbaiknya agar menjauhi bullying 
                 
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Guru - guru di sekolah dalam mengatasi permasalahan bullying di sekolah  :
1. Langkah I : (Pencegahan)
    Dalam langkah ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya  
    masalah bullying di sekolah dan dalam diri siswa sehingga dapat 
    menghambat perkembangannya. Untuk itu perlu dilakukan 
    orientasi tentang layanan bimbingan dan konseling kepada 
    setiap siswa. Guru-guru kerjasama dengan gururu BK dapat 
    membuat program-program yang efektif dalam memberantas 
    bullying.

2. Langkah II : (Pemahaman)
    Langkah ini dimaksudkan memberikan pemahaman kepada 
    siswa tentang bullying dan segala hal yang terkait di dalamnya, 
    termasuk konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah 
    jika ia terlibat dalam persoalan bullying. Sehingga siswa dapat 
    memahami bahaya 

3. Langkah III : (Pengentasan)
    Jika guru pembimbing mengetahui ada siswa yang terlibat dalam 
    permasalahan bullying, maka guru pembimbing harus segera 
    menangani permasalahan ini hingga tuntas. Baik itu 
    penanganan terhadap bully, korban, reinforcer dll yang terlibat 
    bullying. Termasuk juga pengentasan dalam masalah 
    konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah, karena 
    melanggar peraturan dan disiplin sekolah.  
     
Setelah pengentasan maka perlu dilakukan pemeliharaan terhadap segala sesuatu yang positif dari diri siswa, agar tetap utuh, tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, serta mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah lebih baik dan berkembang. Bagi anak-anak yang sudah terlibat bullying maka sebagai proses rehabilitasi perlu dilakukan penyaluran minat dan bakat dengan tepat ke dalam berbagai kegiatan-kegiatan ekskul di sekolah, maupun di luar sekolah. Penyesuaian diri siswa dengan lingkungan sosial serta pengembangan diri dalam mengembangkan potensi positifnya juga perlu dilakukan dalam langkah pengentasan.Yang terpenting sekali bagi pelaku bullying adalah perbaikan. 
 
4. Langkah IV : (Advokasi)
    Artinya setiap permasalahan yang menyangkut perilaku bullying 
    pada permasalahan tertentu jika memang perlu untuk di 
    laporkan kepihak yang berwajib karena menyangkut masalah 
    tindak pidana kriminal, maka hal tersebut perlu 
    dilakukan.Menganalisa dampak yang demikian besarnya yang 
    dapat ditimbulkan oleh perilaku bullying di sekolah yang bisa 
    berujung pada gangguan psikologis bahkan kematian. Penting 
    kiranya bagi kita guru pembimbing untuk memberikan layanan 
    yang maksimal dalam mengatasi perilaku bullying  

Diantara layanan yang dapat kita berikan kepada siswa adalah :
1. Layanan Orientasi
    Menjelaskan kepada anak bahwa di sekolah ada guru 
    pembimbing yang memberikan layanan kepada siswa secara 
    individual, tujuannya mengajak anak untuk menyampaikan 
    berbagai permasalahan yang dialaminya kepada guru 
    pembimbing, sehingga membantu guru pembimbing dalam 
    mencegah terjainya perilaku bullying lebih awal. Selain itu juga 
    ada wali kelas, wakil kepala bidang kesiswaan dan Kepala 
    sekolah

2. Layanan informasi 
    Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang bahaya dari 
    perilaku bullying ini, karena bukan hanya orang tua yang 
    menganggap itu sabagai kenakalan biasa. Siswapun 
    pertama-tama menganggap itu hanya kenakalan dan ejekan 
    dari teman-teman semata, yang lama-kelamaan persepsi ini 
    membuat anak merasa aman dan nyaman untuk melakukan 
    kepada tingkat berikutnya. Memberikan informasi kepada siswa 
    tentang konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah 
    (hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying. Hal ini berarti 
    setiap sekolah sudah mempnyai aturan main sendiri (peraturan) 
    yang jelas dan tegas dalam menindak pelaku bullying.

3. Layanan pembelajaran
    Dengan Layanan Pembelajaran GP bisa melatih siswa-siswa yang 
    introvert (tertutup) untuk berkomunikasi dan mengungkapkan 
    ide-idenya kepada orang lain. Sehingga siswa bisa berlatih 
    berkata tidak dan menolak jika ada siswa lainnya berusaha 
    menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan 
    bullying. Kenapa siswa introvert ? karena merekalah yang 
    berpeluang besar menjadi korban bullying.

4. Layanan penempatan dan penyaluran
    Dengan layanan ini membantu siswa-siswa yang cenderung  
    hiperaktif, disruptive, impulsif dan over active dapat 
    menyalurkan energi ke dalam berbagai kegiatan sekolah. 
    Sehinga siswa dapat menjaga keseimbangan metabolisme 
    tubuhnya serta mengarahkannya kepada kegiatan yang positif.

5. Layanan Konseling Individual
    Layanan ini sangat membantu sekali bagi siswa yang ingin 
    curhat (istilah anak sekarang) berbagai macam 
    permasalahannya kepada guru pembimbingnya. Dengan 
    layanan ini siswa tidak perlu merasa takut dikatakan mengadu 
    atau melapor jika ia menjadi korban bullying, atau menyaksikan 
    perilaku bullying.

6. Layanan bimbingan kelompok
    Layanan ini sangat membantu anak dalam mengungkapkan 
    berbagai permasalahan yang sifatnya umum yang dialami oleh 
    semua anak di sekolah. Termasuk di dalamnya pembahasan 
    persoalan bullying. Karena di dalam layanan bimbingan 
    kelompok tujuan bersama menjadi komitmen bersama. Artinya 
    jika semua siswa bertujuan mencegah dan memberantas 
    bullying bersama maka semua siswa yang ikut di dalam 
    kegiatan tersebut memiliki komitmen yang sama juga untuk 
    melakukannya.

7. Layanan Konseling Kelompok 
    Layanan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk 
    membahas permasalahan yang sifatnya pribadi dalam dinamika 
    kelompok. Sehingga siswa-siswa yang terkait dengan 
    permasalahan bullying ini bisa menjadikan layanan ini sebagai 
    media untuk mengentaskan permasalahannya dengan bantuan 
    anggota kelompok yang lain.

8. Layanan Mediasi
    Guru pembimbing hendaknya dapat menjadi penghubung serta 
    fasilitator dalam penyelesaian permasalahan bullying ini, karena 
    memang persoalan ini bisa melibatkan banyak pihak yang 
    terkait di dalamnya.
 
9. Layanan Konsultasi
    Guru pembimbing hendaknya menjadi tempat konsultasi  
    berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan bullying.   
    (Neneng Kurniati, 2007:12)

Cara Efektif untuk stop bullying:

  1. Mengaktifkan kegiatan Osis missal Kampaye Stop Bullying di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop tema stop bulying.
  2. Guru –guru selalu mengingatkan kepada siswa-siswanya untuk tidak bullying disekolah, dirumah dll karena dampaknya negatif
  3. Peran orang tua selalu peduli dengan kondisi perkembangan putra-putrinya untuk selalu memperhatikan.
Mewujutkan kegiatan siswa dengan diisi kegiatan ilmiah: lomba-lomba ilmiah, olah raga bersama, dan lain-lain. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

" Resensi Buku "

“PERAHU KERTAS” Cover   I. Identitas Buku           J...