" Stop Bully "
KabarIndonesia - Bullying: Bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang/kelompok yang lebih lemah oleh seseorang/sekelompok orang yang memersepsikan dirinya lebih kuat. Bully: Siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.
Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah saat ini sangat memprihatinkan kita sebagai pendidik juga sebagai orang tua. Sekolah yang seharus nya menjadi tempat bagi anak menimba ilmu serta membantu membentuk karakter pribadi yang positif ternyata malah menjadi tempat tumbuh suburnya praktek-praktek bullying, sehingga memberikan ketakutan bagi anak untuk memasukinya. Sebut saja kasus terakhir yang masih hangat adalah kasus Cliff Muntu di IPDN, dan yang terakhir kasus fadhil di Jakarta, belum lagi ditambah adanya kasus tawuran antar pelajar yang terjadi hampir disetiap daerah di tanah air.
Kasus-kasus bullying tersebut terjadi di sekolah, kasus-kasus ini merupakan fenomena gunung es dari banyak kasus lainnya yang terjadi di sekolah yang tidak terekspos oleh media.
Sekolah sebagai suatu institusi pendidikan, sejatinya menjadi tempat yang aman yang nyaman bagi anak didik untuk mengembangkan dirinya, serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia. Bukan malah sebaliknya mencetak siswa-siswa yang siap pakai menjadi tukang jagal dan preman, sungguh ironis sekali. Yang lebih ironis lagi sebagian masyarakat kita bahkan guru sendiri menganggap bullying sebagai hal biasa dalam kehidupan remaja dan tak perlu dipermasalahkan, bullying hanyalah bagian dari cara anak-anak bermain. (Detik.com)
Iklim gencet-gencetan di sekolah sebetulnya sudah lama terjadi di Indonesia. Kasus Edo Renaldo masih hangat-hangatnya. Bocah kelas 2 SD di Jakarta Timur itu, menjadi korban kekerasan di sekolahnya. Bak adegan film gangster, Edo dianiaya oleh 4 temannya di kamar kecil. Tindakan itu tidak membuat bocah-bocah yang masih ingusan itu puas. Mereka kembali memukuli Edo secara beramai-ramai di kelas. Walhasil, Edo terkapar tak berdaya, lalu malam harinya demam tinggi. Lima hari kemudian ia meninggal dunia. Memang, terlalu dini menyimpulkan kematian Edo sebagai akibat ulah 4 temannya. Tapi, kejadian ini memperlihatkan, betapa kekerasan mudah ditemukan di lingkungan sekola.
Beberapa minggu belakangan ini media kita (termasuk blog) diramaikan oleh pembahasan seputar insiden yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Geng wanita, Pencabulan sesama murid, perpeloncoan kepada adik kelasnya ketika MOS dan sejenisnya. Insiden ini sangat memalukan didunia pendidikan.
Beberapa penelitian yang memperlihatkan bahwa ”bullying” merupakan masalah internasional yang terjadi hampir disemua sekolah. Tapi kesamaan permasalahan di tiap-tiap negara dan tidak ada batasan-batasan internasional, status sosial ekonomi ataupin etnis. Berdasarkan hasil penelitian di Norwegia, 15% murid atau satu diantara 7 siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terlibat dalam aksi “bullying”. Bahkan di Amerika serikat, angkanya lebih tinggi, 30% murid SD dan SMP. Hasil survey di Australia menunjukkan bahwa 20% murid mengalami “bullying” setidaknya satu kali dalam seminggu. Kasus paling tinggi terjadi pada anak remaja kelas 8 dan 9 dan dilakukan lebih sering oleh anak laki-laki. Penelitian lain menyebutkan bahwa Australia, anak yang menjadi korban tindak penindasan 3 x lebih tinggi mempunyai resiko depresi. (Whorkshop mengenai kupas tuntas bullying,2008:1)
Di Indonesia peNindasan yang dilakukan oleh murid ke murid atau guru ke murid umum terjadi. Kejadian anak mogok sekolah, perpeloncoa siswa baru, sampai pada kenakalan remaja seperti marakNya geng yang erat hubungannya dengan aksi bullying. Kejadian bullying akhirya mencuat setelah terdapat korban-korban yang meninggal. Sayangnya data survey secara nasional mengenai prevalensi bullying di Indonesia tidak dapat ditemukan Perilaku bullying :
- Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain)
- Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
- Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).
- Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
- Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Salah satu dampak dari bullying yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan bullying adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dalam kasus-kasus yang ekstrim seperti insiden yang terjadi di IPDN, dampak fisik ini bisa mengakibatkan kematian.Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya.
Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.
Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Dari informasi di atas, kita dapat melihat bagaimana perilaku bullying sebenarnya sudah sangat meluas di dunia pendidikan kita tanpa terlalu kita sadari bentuk dan akibatnya. Dalam bagian ke-2, penulis akan menelusuri beberapa sumber lebih jauh lagi untuk melihat karakteristik pelaku bullying, mitos dan fakta tentang bullying, serta bagaimana menghadapi bullying, baik bagi korban, siswa lain yang menonton, maupun bagi pihak sekolah atau orangtua.
Pencegahan Bullying Pada Siswa tanggung jawab civitas sekolah ( Guru, Karyawan dan siswa )
Image Permasalahan Bullying ditangani oleh guru BK ini tidak benar, guru BK hanya memberikan layanan penyelesaian, akan tetapi permasalahan Bullying tanggung jawab kita semua, termasuk siswa para pelakunya. Siswa sebaiknya selalu meningkatkan ibadahnya sesuai dengan agama masing-masing karena bullying sangat tidak baik dilakukan, Peran sekolah selau memberikan nasehat-nasehat bijak dan selalu mengingatkan dengan bullying sangan mempuruk masa depan siswa itu sendiri. Poeran Orang tua juga sangat dibutuhkan menanamkan etika dan moral kepada putra dan putri terbaiknya agar menjauhi bullying
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Guru - guru di sekolah dalam mengatasi permasalahan bullying di sekolah :
1. Langkah I : (Pencegahan)
Dalam langkah ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya
masalah bullying di sekolah dan dalam diri siswa sehingga dapat
menghambat perkembangannya. Untuk itu perlu dilakukan
orientasi tentang layanan bimbingan dan konseling kepada
setiap siswa. Guru-guru kerjasama dengan gururu BK dapat
membuat program-program yang efektif dalam memberantas
bullying.
2. Langkah II : (Pemahaman)
Langkah ini dimaksudkan memberikan pemahaman kepada
siswa tentang bullying dan segala hal yang terkait di dalamnya,
termasuk konsekuensi yang akan diterima siswa dari sekolah
jika ia terlibat dalam persoalan bullying. Sehingga siswa dapat
memahami bahaya
3. Langkah III : (Pengentasan)
Jika guru pembimbing mengetahui ada siswa yang terlibat dalam
permasalahan bullying, maka guru pembimbing harus segera
menangani permasalahan ini hingga tuntas. Baik itu
penanganan terhadap bully, korban, reinforcer dll yang terlibat
bullying. Termasuk juga pengentasan dalam masalah
konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah, karena
melanggar peraturan dan disiplin sekolah.
Setelah pengentasan maka perlu dilakukan pemeliharaan terhadap segala sesuatu yang positif dari diri siswa, agar tetap utuh, tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, serta mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah lebih baik dan berkembang. Bagi anak-anak yang sudah terlibat bullying maka sebagai proses rehabilitasi perlu dilakukan penyaluran minat dan bakat dengan tepat ke dalam berbagai kegiatan-kegiatan ekskul di sekolah, maupun di luar sekolah. Penyesuaian diri siswa dengan lingkungan sosial serta pengembangan diri dalam mengembangkan potensi positifnya juga perlu dilakukan dalam langkah pengentasan.Yang terpenting sekali bagi pelaku bullying adalah perbaikan.
4. Langkah IV : (Advokasi)
Artinya setiap permasalahan yang menyangkut perilaku bullying
pada permasalahan tertentu jika memang perlu untuk di
laporkan kepihak yang berwajib karena menyangkut masalah
tindak pidana kriminal, maka hal tersebut perlu
dilakukan.Menganalisa dampak yang demikian besarnya yang
dapat ditimbulkan oleh perilaku bullying di sekolah yang bisa
berujung pada gangguan psikologis bahkan kematian. Penting
kiranya bagi kita guru pembimbing untuk memberikan layanan
yang maksimal dalam mengatasi perilaku bullying
Diantara layanan yang dapat kita berikan kepada siswa adalah :
1. Layanan Orientasi
Menjelaskan kepada anak bahwa di sekolah ada guru
pembimbing yang memberikan layanan kepada siswa secara
individual, tujuannya mengajak anak untuk menyampaikan
berbagai permasalahan yang dialaminya kepada guru
pembimbing, sehingga membantu guru pembimbing dalam
mencegah terjainya perilaku bullying lebih awal. Selain itu juga
ada wali kelas, wakil kepala bidang kesiswaan dan Kepala
sekolah
2. Layanan informasi
Memberikan pemahaman terhadap siswa tentang bahaya dari
perilaku bullying ini, karena bukan hanya orang tua yang
menganggap itu sabagai kenakalan biasa. Siswapun
pertama-tama menganggap itu hanya kenakalan dan ejekan
dari teman-teman semata, yang lama-kelamaan persepsi ini
membuat anak merasa aman dan nyaman untuk melakukan
kepada tingkat berikutnya. Memberikan informasi kepada siswa
tentang konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah
(hukuman) jika ia melakukan tindakan bullying. Hal ini berarti
setiap sekolah sudah mempnyai aturan main sendiri (peraturan)
yang jelas dan tegas dalam menindak pelaku bullying.
3. Layanan pembelajaran
Dengan Layanan Pembelajaran GP bisa melatih siswa-siswa yang
introvert (tertutup) untuk berkomunikasi dan mengungkapkan
ide-idenya kepada orang lain. Sehingga siswa bisa berlatih
berkata tidak dan menolak jika ada siswa lainnya berusaha
menyakitinya atau mungkin mengajaknya untuk melakukan
bullying. Kenapa siswa introvert ? karena merekalah yang
berpeluang besar menjadi korban bullying.
4. Layanan penempatan dan penyaluran
Dengan layanan ini membantu siswa-siswa yang cenderung
hiperaktif, disruptive, impulsif dan over active dapat
menyalurkan energi ke dalam berbagai kegiatan sekolah.
Sehinga siswa dapat menjaga keseimbangan metabolisme
tubuhnya serta mengarahkannya kepada kegiatan yang positif.
5. Layanan Konseling Individual
Layanan ini sangat membantu sekali bagi siswa yang ingin
curhat (istilah anak sekarang) berbagai macam
permasalahannya kepada guru pembimbingnya. Dengan
layanan ini siswa tidak perlu merasa takut dikatakan mengadu
atau melapor jika ia menjadi korban bullying, atau menyaksikan
perilaku bullying.
6. Layanan bimbingan kelompok
Layanan ini sangat membantu anak dalam mengungkapkan
berbagai permasalahan yang sifatnya umum yang dialami oleh
semua anak di sekolah. Termasuk di dalamnya pembahasan
persoalan bullying. Karena di dalam layanan bimbingan
kelompok tujuan bersama menjadi komitmen bersama. Artinya
jika semua siswa bertujuan mencegah dan memberantas
bullying bersama maka semua siswa yang ikut di dalam
kegiatan tersebut memiliki komitmen yang sama juga untuk
melakukannya.
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membahas permasalahan yang sifatnya pribadi dalam dinamika
kelompok. Sehingga siswa-siswa yang terkait dengan
permasalahan bullying ini bisa menjadikan layanan ini sebagai
media untuk mengentaskan permasalahannya dengan bantuan
anggota kelompok yang lain.
8. Layanan Mediasi
Guru pembimbing hendaknya dapat menjadi penghubung serta
fasilitator dalam penyelesaian permasalahan bullying ini, karena
memang persoalan ini bisa melibatkan banyak pihak yang
terkait di dalamnya.
9. Layanan Konsultasi
Guru pembimbing hendaknya menjadi tempat konsultasi
berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan bullying.
(Neneng Kurniati, 2007:12)
Cara Efektif untuk stop bullying:
- Mengaktifkan kegiatan Osis missal Kampaye Stop Bullying di Lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop tema stop bulying.
- Guru –guru selalu mengingatkan kepada siswa-siswanya untuk tidak bullying disekolah, dirumah dll karena dampaknya negatif
- Peran orang tua selalu peduli dengan kondisi perkembangan putra-putrinya untuk selalu memperhatikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar